Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Terserah’ Category

log 21 Agustus 2008

perjalanan dan kemudiDengan bantuan kronologger.com, aku akan coba merekap acaraku dari tanggal 13 Agustus 2008 lalu sampai 17 Agustus 2008.

13 Agustus 2008
20.07 – Berangkat dari Jogja. Rute yang diambil jogja – purworejo – kebumen – gombong – mbuntu – wangon – bumiayu – ajibarang – prupuk – losari – cirebon – cikampek – bekasi.
23.33 – Busi nomer 4 tiba-tiba lepas sewaktu di Gombong.

14 Agustus 2008
02.09 – Istirahat di spbu. Menuju prupuk.
03.26 – Istirahat di masjid di wilayah ketanggungan brebes. Tidur dahulu sampai subuh karena rasa kantuk yang tak tertahankan.
04.58 – Melanjutkan perjalanan setelah sholat subuh di masjid yang sama.
05.46 – Pergantian pemegang setir. Istirahat di masjid tadi belum cukup.
06.50 – Masuk daerah indramayu. Mencari tempat sarapan tidak ketemu-ketemu.
07.26 – Makan pagi di seafood 99 Indramayu
08.16 – Melanjutkan perjalanan lagi setelah perut terisi
10.53 – Sampai Cikampek, menuju gerbang tol
11.48 – Pergantian sopir lagi didalam tol
12.07 – Pindah dari tol Cikampek ke tol JORR
(more…)

Read Full Post »

Hari tanpa tv

Ide ini dicanangkan oleh kidia, mereka prihatin dengan kondisi acara televisi saat ini dan dampaknya pada anak-anak.

Saya sendiri tidak begitu mempermasalahkan dengan nonton atau tidak nonton tv. Apa gara-gara gambar yang ditangkap tv saya tidak terlalu bersih atau memang saya tidak punya waktu untuk menonton. Tapi memang dari dulu, dari keluarga juga, tv tidak menjadi hiburan yang utama.

Pendapat saya tentang kondisi acara saat ini, kurang lebih tidak jauh beda dengan pendapatnya om pri dan om Jay. Daripada saya nulis lagi dan dituduh plagiat, lebih baik silahkan berkunjung ke blog dua om diatas.

Oh ya, info ini juga saya dapat dari Eko Juniarto

Read Full Post »

Pernah melakukan akses terhadap suatu web, dan tiba-tiba server-nya down? Apa saja pesan yang anda terima?

Ternyata WordPress.com memberikan pesan kesalahan itu dengan cukup unik dan menggelitik. 😀 (more…)

Read Full Post »

semalem, tanggal 27 Februari 2006, untungnya aku sempat nonton republik BBM, padahal sebelumnya sempet lupa.

Panelis tamu yang diundang, Wimar Witoelar. Terus Kontestan Menterinya ada Dicky Chandra, Sofie Novita, dan Pak Fatah (orang yang terakhir ini aku nggak tahu artis apa). (more…)

Read Full Post »

Surat berantai yang panjang

Hari ini di milis idro@yahoogroups.com kedapetan surat berantai. Yang lucu bagi saya, ternyata email ini sudah dikirimkan ke banyak orang, terlihat bahwa dalam mengikuti perintah dari surat berantai ini, mereka serta merta langsung klik reply dan pilih semua alamat email yang ada di address book-nya dia, lalu send. Benar-benar pengharapan yang instant, tidak ada usaha untuk merapikan quote-nya tidak ada usaha menulis ulang, pokoknya langsung kirim, dan berharap apa yang di janjikan surat berantai ini segera terwujud. (more…)

Read Full Post »

Musholla dan Mall

Pernah pergi ke Mall kemudian tiba-tiba anda tersadar belum sholat Dhuhur, sholat Ashar, atau sholat Maghrib?

Pernah pergi ke Mall kemudian tiba-tiba anda ngerasa kebelet yang sudah tak tertahankan lagi?

Coba anda tanyakan ke Satpam, atau bagian Informasi, jika anda bertanya

“Aduh mas, to-toilet-nya mana yah…”

pasti dengan sigap akan dijawab

“Oh! disana pak!”

atau

“Dibelakang elevator, nanti ada petunjuknya”

atau

“Lha itu…”

atau

“Walah… bapak pikir bapak ini tanya-nya dimana, saya ini juga baru saja kencing pak”.

Sekarang coba tanyakan ke Satpam lokasi Musholla-nya, kurang lebih jawabnya akan seperti ini

“Silahkan bapak turun terus, sampai di tempat parkir paling bawah, kekanan pak, yah… kira-kira 10 meter deh, nanti Musholla-nya ketemu kok”

atau

“Oh.. bapak silahkan naik saja, sampai tempat parkir atas, habis itu ke utara. Musholla-nya yang mepet barat pak. Kalau masih bingung, bisa tanyakan ke petugas yang di parkir atas pak..”

atau

“Engg.. Musholla yah? itu-tu pak.. bapak silahkan ke arah toilet, habis itu kekiri, nanti terus, ada pintu kekanan, kanan lagi, nah.. nanti musholla-nya sudah kelihatan pak”

Dari respon-respon lagi sudah jelas, bukannya para satpam itu tidak bisa memberikan arahan Mushola yang tepat, tetapi labih lagi karena memang mall itu dibangun minus Musholla. Musholla tidak dimasukkan kedalam rancangan blue-print-nya. Akhirnya banyak (hampir semua kayaknya) mall “memaksakan” space yang tidak terpakai menjadi sebuah Musholla. Saya tidak bisa mengambil banyak contoh di banyak mall, mengingat saya ke mall juga jarang-jarang.. 🙂

Misalkan saja di Galleria Mall Jogjakarta, Musholla terletak di lantai B2 (basement ke-2) yang notabene adalah lahan parkir. Mushola-nya kecil, mungkin seluas 3×3 meter, tidak memadahi jika dibandingkan dengan daya tampung mall-nya. Kemudian di Karawaci SuperMall, Musholla-nya tidak lain adalah toilet karyawan yang tidak terpakai, disulap menjadi Musholla. Belum saya pastikan sih, tapi sepertinya Musholla-nya tidak hanya satu. kemudian di Carrefour ITC, BSD. Disana musholla terletak di lantai paling atas, sudah lumayan, tersedia tempat wudhu tersendiri dan dua buah WC. Tapi tetap saja, untuk level ITC, Musholla tersebut belum bisa mengakomodasi pengunjungnya.

Apakah Musholla ini hanya disediakan untuk karyawan di Mall itu saja?
Padahal kalau dilihat dari sisi kebutuhannya, antara toilet dan Musholla memang sama-sama dibutuhkan. Ada yang merancang dengan membangun megah Musholla-nya (bentuk menyerupai masjid, tapi tanah-nya tidak di-wakaf-kan) disamping Mall. Dibuat dengan berukuran besar, kalau perlu tiga lantai, agar pengujung mall bisa terakomodasi semua. Tetapi, prinsipnya bukan seperti itu.

Coba saja anda bayangkan sebuah Mall, dimana Toilet-nya berupa bangunan terpisah dari Mall itu sendiri. Pasti anda akan merasa Mall itu sangat tidak nyaman, walaupun bangunan toilet-nya dibuat megah (toilet megah seperti apa sih?) dengan kapasitas untuk melayani banyak orang. Karena yang dibutuhkan disini kemudahan untuk mengakses-nya.

Musholla yang sukar untuk diakses pun juga akan menyebabkan pengunjung enggan untuk melaksanakan kewajiban Sholat. Dampaknya mungkin tidak kentara (bagi yang tidak peduli dengan sholat), tapi hal ini dapat menyebabkan pengunjung tidak betah berlama-lama di Mall (padahal parkir-nya saja pakai hitungan jam). Padahal yang dicari dari para pemilik mall itu bagaimana membuat pengunjung betah berlama-lama di mall. Fasilitas-fasilitas publikpun mulai disediakan di dalam mall, seperti food court, sinyal kuat didalam mall, tempat duduk, pertokoan yang komplit, parkir yang nyaman, suasana yang segar, menerima pelaksaan pameran, termasuk toliet yang banyak sehingga dimanapun posisi pengunjung akan dengan mudah menjangkaunya.

Sebenarnya untuk memasukkan desain Musholla ke satu kesatuan bangunan Mall tidak-lah susah. Berikan space di samping toilet. Tidak perlu besar-besar, seluas space toilet itu sendiri juga sudah cukup. Air wudhu dapat diambil dari instalasi plumbing di toilet. Desain tempat wudhu dapat diletakkan di depan Toilet-nya. Akan lebih baik juga, jika tempat wudhu-nya juga dibuat space sehingga antara pria dan wanita terhadap tempat wudhu yang terpisah.

Untuk masalah perawatannya, dapat juga di gabungkan dengan Janitor, mengingat kebanyakan yang kotor adalah pada bagian tempat wudhu-nya. Akan lebih baik jika pihak Mall juga menyediakan tim khusus untuk merawat Musholla ini. Nanti tim ini tugasnya menjaga kebersihan Musholla seperti menyapu lantai, merawat karpet yang sering digunakan, mencuci sajadah, dan juga tidak lupa mencuci rukuh dan mukena. Karena, kadang-kadang rukuh yang tidak terawat (baca: bau!) juga membuat enggan untuk sholat. Lain cerita jika membawa rukuh sendiri (biasa-nya sih, ini yang dilakukan jika emang sudah niat mo sholat di Mall)

Nah, dengan menyandingkan toilet dengan Musholla, maka penempatan pemilihan lokasi, dan daya tampung tidak perlu susah-susah diperhitungkan. Setiap disitu ada toilet, pasti didekatnya ada Mushola juga. Untuk bikin tanda petunjuk pun juga tidak susah-susah, tinggal bikin satu template “Toilet & Musholla”. Jadi, jika semisal di Mall dalam tiap lantai ada 6 toilet, maka ada 6 Musholla juga. Jika Mall itu terdiri dari 4 lantai, maka akan ada 24 toilet, dan tentunya 24 Musholla.

Tidak perlu pusing dengan alasan “Wah.. kalau Musholla sebanyak itu, nanti banyak Musholla yang nganggur dong…” Lha… emang 24 toilet, apa semuanya juga terisi? jika dimasing-masing toilet ada 5 closet, apa seluruh 120 closet akan terisi semua? tentu tidak kan? Namanya juga memberi layanan. Harus dipersiapkan semuanya untuk mempermudah akses yang dilayani.

Contohnya (yang agak nggak nyambung) di Hypermart. Mereka menyediakan counter cashier yang sebegitu banyaknya (sorry nggak sempat ngitung) juga nggak semua cashier di kunjungi. Semua itu tadi yang disebut layanan. Bahkan jikapun semua counter cashier itu dinyalakan, jika saatnya orang belanja-banyak tiba (lebaran misalnya), pengunjung juga tetap ada yang antri kok. Hanya saja antriannya pasti jadi lebih pendek. Itu tadi yang disebut layanan. Jadi tidak perlu khawatir dengan closet yang berjumlah 120 dan Musholla yang berjumlah 24.
Kasus ini, sebenarnya tidak hanya untuk Mall, tapi di gedung perkantoran, atau gedung pertemuan juga perlu diterapkan. Orang malas lah, kalau disuruh naik-turun untuk sholat. Biasanya mereka akan membuat tempat sholat sendiri di dalam partisi kerja-nya, atau menggunakan partisi yang kosong.

Yah.. semoga saja bangunan-bangunan Mall yang baru dapat merujuk pola pemikiran saya dalam pembuatan Musholla. Bikin Musholla itu tidak repot kok, apalagi untuk kelas SuperMall. 😀

Read Full Post »

Pasang Blog (lagi) di wordpress.com

Akhirnya aku bisa nulis-nulis blog lagi.

Blog-ku awalnya aku buat di lab. TI, sehingga blog-ku bisa diakses dengan alamat http://dte.ft.ugm.ac.id/~fathir/wordpress/ atau http://te.pdft.ugm.ac.id/~fathir/wordpress atau yang sering kuakses dengan alamat http://202.169.229.11/~fathir/wordpress.
Tapi sudah beberapa bulan yang lalu, kalau nggak salah akhir 2005, Debian yang jadi nyawa dari mesin tempat wordpress-ku nongkrong, tidak bisa booting. Kesalahan-nya yang tampil yaitu tidak bisa menemukan posisi init yang dipakai, jadi tiap kali dinyalakan, system akan menanyakan akan menggunakan init berapa.
Tapi, kalaupun diberi jawaban, init 3 misalnya, tetep saja proses boot-nya nyangkut di tengah jalan. Kalau nggak salah, kesalahannya ada di file /etc/ioctl.save aku kurang begitu yakin juga. Aku sudah laporin hal ini ke Jaya, sang Admin, juga seperti-nya tidak begitu mengetahui apa yang sedang terjadi.
Berbagai jadwal diupayakan untuk memperbaiki si Debian ini, tapi tetep saja tidak ada kesempatan. Hingga akhirnya sekarang, Jaya ke Jakarta, dan mesin yang berisi Debian ini masih saja belum di tindak lanjuti.
Oleh karena itu, jangan coba-coba akses alamat diatas, karena sudah pasti, web yang anda nanti-nantikan tidak akan nongol, lha wong, server-nya aja nggak nyala.. 😀

Kenapa saya memilih wordpress.com?
hmm.. apa yah? alasannya nggak muluk2 banget sih, soalnya saya emang dari awal kenal blog, tahunya ya.. dari wordpress ini.. tepatnya, menggunakan produk-nya. Jadi entah kenapa juga, saya merasa yakin kalau wordpress ini merupakan aplikasi web yang cocok buat saya.

Read Full Post »

Older Posts »